Kendari Werk dalam Pusaran Zaman

perhiasan-perak-khas-kendari

Pekerja di ruang pamer Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sulawesi Tenggara memperlihatkan beragam produk perhiasan perak khas Kota Kendari yang dikenal sebagai Kendari Werk. Foto : Kompas/Mohamad Final Daeng.

Kamal Tandra (72) sibuk mengelap kaca penutup sebuah miniatur kapal pinisi buatannya. Hiasan yang sepenuhnya terbuat dari perak dengan jalinan halus itu merupakan sebagian kerajinan Kendari Werk yang masih tersisa di tokonya.

Sudah 13 tahun terakhir toko perhiasan Diamond milik Kamal di daerah sibuk Mandonga, Kendari, tak lagi memproduksi kerajinan perak khas Kendari Werk. Ia pun kini hanya memajang beberapa perhiasan stok lama sisa produksi, termasuk miniatur pinisi tadi.

”Sudah tak ada lagi pekerjanya,” ujar Kamal, akhir Maret lalu. Sebelumnya, ia memiliki 14 perajin Kendari Werk, tetapi satu per satu berhenti atau beralih ke profesi lain. Hal ini juga sebagai dampak dari lesunya penjualan perhiasan jenis itu di tokonya.

Kamal sebenarnya masih ingin meneruskan memproduksi kerajinan perak asli Kendari itu. Meskipun tak sering, masih ada pelanggan atau rombongan turis yang datang menanyakan Kendari Werk.

Namun, ia terkendala dalam mencari tenaga perajin baru. Pasalnya, tak sembarang orang bisa menguasai pembuatan Kendari Werk yang terkenal rumit itu. Selain membutuhkan jiwa seni dan keterampilan tinggi, perajin juga harus tekun, teliti, dan sabar.

Kekurangan perajin juga dialami Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulawesi Tenggara, seperti yang diakui Ketua Dekranasda Sultra Tina Nur Alam. Sejak 1985, Dekranasda Sultra menjadi rumah pelestarian Kendari Werk yang hingga kini masih rutin memproduksi dan memasarkannya.

Para perajin direkrut dan dilatih Dekranasda Sultra dengan prospek pengangkatan mereka sebagai pegawai negeri sipil. Selain menerima gaji tetap, para perajin juga memperoleh tambahan upah dari setiap produk yang dihasilkan.

Meski begitu, tetap tidak mudah untuk merekrut orang dengan keterampilan dan kemauan untuk menekuni pembuatan perhiasan yang rumit itu. ”Kami membutuhkan paling tidak dua kali lipat perajin dari 15 perajin yang ada saat ini,” ujar Tina.

Hal itu demi mengikuti permintaan pasar akan produk Kendari Werk sambil tetap mempertahankan teknik dan proses pembuatan yang sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan perajin. ”Hal itu yang menjadi nilai tambah dan ciri khas Kendari Werk dibandingkan kerajinan-kerajinan perak lainnya,” ujar Tina.

Wantamori (50), koordinator perajin Kendari Werk di Dekranasda Sultra, mengatakan, selama bertahun-tahun sudah banyak orang yang direkrut menjadi perajin, tetapi banyak pula yang kemudian berhenti karena tak kerasan menekuni kerajinan itu. Dari 20 orang pertama yang direkrut Dekranasda pada 1985, hanya Wantamori yang masih bertahan.

Kerajinan ini rumit dan membutuhkan ketelatenan.
— Wantamori

”Kerajinan ini rumit dan membutuhkan ketelatenan,” ujarnya. Belum lagi proses pembuatan sebuah perhiasan yang panjang dan membutuhkan waktu lama. Setidaknya dibutuhkan 1-2 hari untuk membuat sebuah cincin atau bros bermotif sederhana.

Makin besar ukuran barang dan rumit motifnya, makin lama waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya. Wantamori pernah membuat sebuah miniatur kapal pinisi yang memakan waktu pengerjaan sebulan.

Proses panjang

Proses bermula dari peleburan bahan baku perak dan dicetak menjadi batangan seukuran jari orang dewasa. Setelah itu, batangan tersebut ditempa dan kemudian ditekan dengan alat pres yang diputar dengan tangan.

Setelah menjadi bentangan panjang, perak lalu ditarik dengan alat khusus untuk dibentuk menjadi kawat atau benang panjang. Ukuran yang bisa dihasilkan bervariasi, dari mulai yang terbesar, yakni 2,2 milimeter, hingga yang paling tipis 0,26 milimeter.

Kawat biasanya dijadikan kerangka atau bingkai perhiasan yang akan dibuat, sedangkan benang yang berukuran tipis menjadi bahan pengisi motif perhiasan atau kerawangnya. ”Harus berhati-hati dan memakai perasaan saat menarik perak menjadi benang. Kalau putus, perak harus dilebur ulang dan proses dimulai dari awal lagi,” kata Wantamori.

Benang lalu dipelintir untuk menciptakan kontur bergerigi yang indah. Proses lalu berlanjut dengan pembentukan kerangka perhiasan. Setelah kerangka jadi, barulah pengisian motif atau benang-benang perak bisa dilakukan. Di sinilah kerumitan makin bertambah.

Mimi (26), perajin spesialis pengisi kerawang, mengatakan butuh waktu seharian hanya untuk membuat kerawang sebuah bros kecil. Perlu ketelitian tinggi dan mata yang awas agar benang yang halus itu terjalin rapi di dalam kerangka.

Setelah selesai pengisian kerawang, perhiasan memasuki tahap akhir berupa penggosokan dan pemolesan untuk mengeluarkan kilau peraknya. Produk pun kemudian siap dipasarkan.

Proses produksi yang rumit dan minimnya perajin menjadi kendala penghambat berkembangnya Kendari Werk di Kendari. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kendari Syam Alam mengatakan, kurangnya minat perajin juga disebabkan banyak perajin yang lebih memilih mengolah emas ketimbang perak.

Hal itu karena margin keuntungan membuat perhiasan emas lebih besar ketimbang perak dengan keterampilan dan tenaga yang relatif sama. Contohnya, dengan harga perak mentah Rp 25.000 per gram, harga jual kembali dalam bentuk perhiasan jadi hanya berkisar Rp 40.000 per gram.

”Margin Rp 15.000 per gram tidak sebanding dengan tenaga, kesulitan, dan waktu yang dibutuhkan perajin. Berbeda dengan emas yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah,” kata Syam.

Saat ini terdapat tiga kelompok perajin Kendari Werk di luar Dekranasda Sultra yang masih bertahan. ”Kemampuan produksinya per tahun hanya 2-3 kilogram perak,” katanya.

Pemerintah Kota Kendari terus berupaya mempertahankan perajin yang tersisa dengan mengirimkan mereka mengikuti pelatihan-pelatihan. Dari segi pemasaran, Syam mengatakan pihaknya membantu dengan menyalurkan produk-produk Kendari Werk sebagai cendera mata.

Saat ini, Kendari Werk dipasarkan di ruang pamer Dekranasda Sultra, Dekranasda Kendari, kios di Bandara Haluoleo, dan salah satu toko penjual oleh-oleh di Kendari.

Masalah pemasaran jugalah yang awalnya membuat perajin Kendari Werk berbondong-bondong hijrah ke berbagai kota besar di Tanah Air, terutama Makassar, pascakemerdekaan.

Posisi Kendari yang bukan sebagai sentra perekonomian nasional ataupun regional serta tidak pula berstatus kota pariwisata membuat pemasaran produk premium tersebut seret. Hal itu berbeda jauh dengan nasib kerajinan perak di kota seperti Yogyakarta, Bali, ataupun Makassar yang ditopang kuatnya perekonomian lokal dan industri pariwisata.

Kapan Kendari Werk bisa kembali berjaya…? (Mohamad Final Daeng/Kompas)

Seni Tari Honari Mosega dari Sulawesi Tenggara

tari honari mosegaIndonesia tak hanya dianugerahi dengan kekayaan alam yang indah, negeri ini juga di anugerahi dengan beragam kebudayaan yang unik dan menarik. Salah satu kebudayaan yang bisa Anda nikmati hingga sekarang adalah seni tari Honari Mosega.

Kesenian ini adalah tarian perang asli asal Liya, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kesenian Tari Tradisonal ini merupakan kebanggaan masyarakat Liya yang mengisahkan tarian berani.

Dahulu kala seni tari Honari Mosega di atraksikan sebelum dan sesudah perang. Tarian ini diadakan sebagai pengungkapan dan motivasi dari semangat prajurit Liya ketika akan berperang mengusir musuh dan kegembiraan mereka karena pulang dengan kemenangan keberhasilan menaklukan musuh.

Tari ini dimainkan oleh beberapa laki-laki, terdiri dari 1 penari inti disebut tompidhe dengan memegang tombak atau parang, dan dilengkapi dengan 1 atau 4 orang sebagai hulubalang yang disebut manu-manu moane dengan memegang tombak dan janur kuning sebagai penghalau bisa atau sihir. Kadang terdapat pula hulubalang wanita yang disebut manu-manu wowine serta 1 orang pemukul gendang atau tamburu.

Penari Tompidhe dan Manu-manu Moane dilengkapi dengan untaian gemerincing dan dalam gerakannya akan selalu menimbulkan bunyi. Terdapat gerakan meloncat dan maju lalu mundur secara beraturan sebagai gerakan silat Liya yang disebut Makanjara, yang dilakukan karena kegembiraan atas kemenangan mereka dalam berperang.

Tari Honari Mosega selama masa kesultanan buton sering ditampilkan pada acara-acara penyambutan tamu agung, maupun perangkatnya serta acara-acara adat yang berlaku hanya dalam lingkup keturunan para bangsawan Liya.(sumber : gema-budaya.blogspot.com)

Wakatobi Target Juara Umum MTQ XXIV Tingkat Sultra

mtq sultraPelaksanaan Musbaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXIV tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang ditempatkan di Kabupaten Wakatobi 29 Maret – 6 April mendatang merupakan salah satu syiar untuk mengangkat Wakatobi pada ajang religius. Demikian disampaikan Bupati Wakatobi, Ir Hugua, beberapa hari lalu. Dikatakannya, dalam kehidupan beragama melalui MTQ tentu sebagai salah satu pertarungan peradaban. Dimana, dalam peradaban itu tercermin sebuah kebudayaan. Kebudayaan merupakan satu khasanah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. “Sebuah kebudayaan yang membedakan kita manusia dengan makhluk lainnya,” katanya.

Untuk itu, imbuh Hugua, Wakatobi sebagai daerah yang dipersiapakan sebagai pengembangan pariwisata di bagian timur indonesia, tidak akan terpengaruh dengan budaya lainnya. Wakatobi akan tetap menonjolkan budaya tersendiri yang tidak dimiliki daerah lainnya di indonesia. Begitu pula menghadapi event religius (MTQ, red) mendatang, Wakatobi akan menampilkan tari khas daerahyag tentunya akan dikemas melalui tari klosal pada pembukaan MTQ nanti.

Dijelaskannya, tari klosal yang akan ditampilkan pada pembukaan MTQ  nanti, merupakan perpaduan antara kebudayaan Wakatoi bernuansa alami namun tentunya tidak akan menghilangkan sentuhan religi. “Tari klosal yang akan ditampilkan pada pembukaan MTQ nanti, yakni tari klosal yang mencerminkan kebudayaan Wakatobi bernuansa alami dan tidak akan mengadopsi budaya lain,” jelas Hugua.

Ditanya soal target juara umum dimana Wakatobi sebagai tuan rumah,  Hugua, dengan optimisnya mengatakan kafilaf-kafilah Wakatobi tetap akan berupaya tampil maksimal. Dan Wakatobi menargetkan juara umum. “Kita (Wakatobi, red) menargetkan juara umum,” tukas Hugua.(Sumber : Sultra-Online.com)

Budaya Lokal Jadi Kekuatan Integritas Masyarakat

workshop budayaAdanya arus modernisasi dan globalisasi telah berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat, yakni mengikisnya nilai-nilai budaya, etika, dan prilaku sosial budaya, khususnya di kalangan generasi muda. Sehingga adanya pengikisan nilai-nilai budaya itu berakibat kepada melemahnya karakter dan integritas masyarakat khususnya di kalangan generasi muda.

Berdasar latar belakang ini, Lembaga Diskusi dan Kajian Jurnalis (LDKJ) bekerjasama dengan Pemerintah Kota kendari menyelenggarakan Workshop dengan tema ” Revitalisasi Budaya Lokal Sebagai Penguatan Karakter dan Integritas Bagi Pelajar dan Mahasiswa”.  Workshop berlangsung di Hotel Kubra Kendari, Kamis – Jumat (14-15/3).

Direktur Eksekutif LDKJ, Jumwal Shaleh SP, saat membuka acara workshop tersebut mengatakan,  saat ini sudah banyak generasi muda yang sudah tidak mengetahui lagi nilai-nilai budaya lokal dari kommunitasnya. Padahal, kata Jumwal, budaya lokal sebenarnya sangat kaya dengan nilai-nilai tata kehidupan bermasyarakat yang baik dan bermoral.

“Saat ini  lagi tren diangkat kembali pendidikan karakter dan integritas, padahal jika kita memahami nilai-nilai budaya lokal, pendidikan seperti itu semuanya ada di dalam. Olehnya kita harus menghilangkan pemikiran bahwa mempelajari budaya lokal itu adalah kuno, tidak gaul, tidak modern,” katanya.

Jumwal juga mengajak para peserta workshop jangan selalu mempertentangkan identitas etnis sehingga berujung pada konflik, karena sesungguhnya identitas etnis itu adalah sunatullah. “Dalam kita lahir di dunia ini, kita tidak pernah memilih untuk terlahir orang Muna, Tolaki, Buton, Bugis, atau etnis lainnnya. Olehnya itu, etnis biarnya menjadi identitas, tetapi jangan menjadi sumber pertentangan. Marilah hal itu kita jadikan kekayaan untuk saling kenal dan bersama dalam suatu kehidupan ini,” ujarnya.

Ketua panitia pelenggaran, Pendais Haq SAg MPd menjelaskan, workshop yang berlangsung dua hari dibagi dalam dua sesi, yakni pertama berupa refleksi pemahaman dasar peserta tentang revitalisasi budaya dalam penguatan karakter dan integritas.

Dalam acara ini menghadirkan nara sumber, yakni, La Ode Safiun Arihi SPd MPd tentang konsep dan urgensi pendidikan karakter, Muh Abas SPd Mpd (strategi penguatan karakter dan integritas dalam perspektif sosial budaya.  Selain itu dari Pemerintah Kota Kendari tentang kebijakan dan strategi pemerintah Kota Kendari dalam penguatan karakter dan integritas generasi muda, dan Pendais Haq SAg MPd mengenai refleksi sosial budaya atas berbagai aksi sosial pelajar dan mahasiswa.

Pada hari kedua, Jumat (15/3) besok akan diisi dengan diskusi terfokus mengenai topik baik berupa brainstorming maupun melakukan identifikasi masalah dan penyebab serta berbagai ancaman masalah-masalah sosial pelajar dan mahsiswa khususnya terkait melemahnya karakter dan integritas generasi muda. Setelah itu merumuskan langkah-langkah bersama dan membangun konsesus terkait penguatan kearifan budaya lokal.

Workshop ini diikuti tiidak kurang dari 30 peserta terdiri dari pelajar perwakilan OSIS SMA se-Kota Kendari, dan mahasiswa, perwakilan organisasi intra kampus, ekstra kampus, dan organisasi berbasis etnik.(Sumber : Kendarinews.com)

Ibu Wagub Sultra Kunjungi Pusat Kebudayaan Wolio

kebudayaan wolioKamis 21 Februari 2013 Tepatnya pukul 10 Pagi, ibu Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Ny Itoh Saleh Lasata bersama dengan Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kota Baubau Ny. Sartini Tamrin, S.Pd. mengunjungi Pusat Kebudayaan Wolio yang berada di Kel. Badia Kecamatan Murhum Kota Baubau.  Bersama dengan beberapa tamu yang berasal dari Kota Bandung kedatangan Ny Itoh  disambut langsung oleh Wakil Walikota Baubau Ny Wa Ode Maasra Manarfa yang juga merupakan salah Kerabat dari Sultan Buton ke La Ode Manarfa .

Setelah sedikit bercengkrama dengan Ny Maasra Manarfa Ibu Wakil Gubernur Sultra Ny  Itoh saleh lasata  bersama dengan rombongan langsung bergegas mengelilingi hampir setiap sudut runagan yang ada di bangunan yang biasa juga dikatakan sebagai musium peninggalan sejarah wolio ini.  Begitu banyak yang menarik perhatian Beliau bersama rombongan, salah satunya yaitu foto-foto tempo dulu yang secara umum berhasil menggambarkan sejarah singkat mengenai  kesultanan Buton.

Perjalanan tidak hanya sampai di lantai utama, dengan keadaan yang masih tetap semangat beliau bersama rombongan kemudian naik ke lantai atas. Disini mereka disuguhi dengan benda-benda antik peninggalan Sultan. diataranya, peralatan masak yang terbuat dari besi dan ukurannya relatif besar. Sembari memperhatikan benda-benda peninggalan sejarah, bersama dengan rombongan Ny Itoh Saleh Lasata juga terus menyimak penjelasan mengenai fungsi dan manfaat dari  benda-benda peninggalan sejarah yang ada di Musium ini.

Kunjungan pun selesai Setelah hampir satu jam mengelilingi setiap sudut ruangan yang ada di musium ini. sebelum berpamitan Ny Itoh menyampaikan ucapan terimakasih sekaligus kekaguman terhadap  kelestarian peninggalan sejarah yang ada di Kota Baubau. “ Hampir semua sudut di Kota Baubau ini mempunyai situs-situs peninggalan sejarah yang masih tetap terus terjaga kelestariannya salah satunya adalah Pusat Kebudayaan Wolio ini, ini harus terus dilestarikan da dapat dijadikan sebagai obtek wisata khusunya wisata Budaya.” Ungkap Beliau.(Sumber : baubaukota.go.id)

Mendagri: Sultra Termasuk Pemberi Layanan E-KTP Terbaik

mendagri“Sulawesi Tenggara merupakan provinsi yang keempat, entri pelayanan e-KTP dianggap sudah selesai, walaupun masih ada data penduduk yang belum semuanya terkaper dalam pelayanan,” kata Mendagri saat memberi penghargaan kepada Gubernur Sultra, ketua DPRD provinsi dan seluruh bupati/wali kota se-Sultra di Kendari, Minggu.

Tanpa menyebut provinsi mana saja yang sudah dinyatakan selesai melakukan entri penduduk dengan menggunakan e-KTP, namun menurut Menteri bahwa bentuk pelayan e-KTP tercepat dan terbaik adalah kabupaten Bombana yang sebelum Oktober 2012 sudah selesai melakukan program e-KTP.

Hal ini menunjukkan bahwa program e-KTP di Sultra sudah dinyatakan berhasil, walaupun pemerintah masih memberi kesempatan bila masih ada wara yang belum terdata dan masuk dalam program e-KTP nasional itu masih diberi waktu hingga Juli 2013.

“Kesempatan bagi seluruh warga Indonesia terutama yang bermukim di bukit-bukti pegunungan jauh, dipesisr pantai dan pelosok desa, agar di pertengahan tahun ini semuanya sudah terdata,” katanya.

Oleh karena itu, kata Mendagri, tugas para camat, lurah dan kepala desa untuk mengarahkan seluruh tenaga, pikiran dan kekuatan untuk mendata warganya yang hingga saat ini belum terdata.

Sebab data untuk melengkapi jumlah penduduk 170 juta jiwa yang wajib e-KTP dari seluruh penduduk Indonesia yang mencapai 244 juta jiwa lebih itu harus memiliki e-KTP untuk melengkapai proses pemilihan legislatif di tahun 2014 mendatang.

“Kalau sebelumnya ada warga Indonesia yang memiliki ganda empat atau lima KTP per orang, maka dengan program e-KTP sudah tidak ada lagi, karena dari sidik jari dan mata akan ketahuan bila yang bersangkutan sudah memiliki beberapa KTP,” kata Mendagri.

Kahadiran Mendagri di Kota “lulo” Kendari, dalam rangka untuk melantik dan mengambil sumpah dan jabatan gubernur dan wakil gubernur Sultra terpilih periode 2013-2018, pasangan H Nur Alam/HM Saleh Lasata pada tanggal 18 Februari 2013.

Dalam pengarahan tersebut Mendagri Gamawan Fauzi yang didampingi sejumlah pejabat eselon I Mendagri itu, juga memperagakan beberapa kasus di daerah yang ketahuan ada warganya yang mengurus e-KTP berulang kali dengan cara mengubah identitas.(sumber : bpp.depdagri.go.id)

Pemprov Sultra Jaring Pemuda Pertukaran Antaranegara

pertukaran pemudaPemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan penjaringan dan seleksi secara ketat bagi para pemuda guna diikutkan program pertukaran pemuda antarnegara sahabat melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Kabid Pemuda dan Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sultra, La Tandowele mengatakan, Empat negara yang menjadi tujuan pertukaran pemuda adalah Malaysia, Australia, Canada dan Jepang.

“Kemitraan antarnegara dalam hal pertukaran antarpemuda sudah terjalin sejak lama. Banyak hal-hal positif yang menguntungkan antarnegara,” kata La Tandowele, di Kendari, Jumat, (8/3).

Pemerintah memilih Empat pemuda handal untuk mengikuti program pertukaran pemuda, masing-masing di Malaysia, Australia, Canada dan Jepang.

Kriteria utama mengikuti program pertukaran pemuda antarnegara adalah menguasai bahasa negara tujuan, berwawasan nusantara dan memiliki kemampuan mempromosikan budaya daerah Sultra serta nasional.

“Pemuda yang mengikuti program pertukaran pemuda antarnegara mengemban misi kebangsaan. Mereka dianggap pantas mengangkat harkat dan martabat bangsa,” ujarnya.

Waktu yang dibutuhkan dalam program pertukaran pemuda bervariasi yakni Malaysia selama dua pekan dan Jepang selama enam bulan.

“Kita semua berharap duta pemuda asal Sultra mampu mengemban misi negara. Mereka harus mampu mengharumkan nama bangsa,” pungkas Tandowele.(Sumber : sultra.kemenag.go.id)