Kendari Werk dalam Pusaran Zaman

perhiasan-perak-khas-kendari

Pekerja di ruang pamer Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sulawesi Tenggara memperlihatkan beragam produk perhiasan perak khas Kota Kendari yang dikenal sebagai Kendari Werk. Foto : Kompas/Mohamad Final Daeng.

Kamal Tandra (72) sibuk mengelap kaca penutup sebuah miniatur kapal pinisi buatannya. Hiasan yang sepenuhnya terbuat dari perak dengan jalinan halus itu merupakan sebagian kerajinan Kendari Werk yang masih tersisa di tokonya.

Sudah 13 tahun terakhir toko perhiasan Diamond milik Kamal di daerah sibuk Mandonga, Kendari, tak lagi memproduksi kerajinan perak khas Kendari Werk. Ia pun kini hanya memajang beberapa perhiasan stok lama sisa produksi, termasuk miniatur pinisi tadi.

”Sudah tak ada lagi pekerjanya,” ujar Kamal, akhir Maret lalu. Sebelumnya, ia memiliki 14 perajin Kendari Werk, tetapi satu per satu berhenti atau beralih ke profesi lain. Hal ini juga sebagai dampak dari lesunya penjualan perhiasan jenis itu di tokonya.

Kamal sebenarnya masih ingin meneruskan memproduksi kerajinan perak asli Kendari itu. Meskipun tak sering, masih ada pelanggan atau rombongan turis yang datang menanyakan Kendari Werk.

Namun, ia terkendala dalam mencari tenaga perajin baru. Pasalnya, tak sembarang orang bisa menguasai pembuatan Kendari Werk yang terkenal rumit itu. Selain membutuhkan jiwa seni dan keterampilan tinggi, perajin juga harus tekun, teliti, dan sabar.

Kekurangan perajin juga dialami Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulawesi Tenggara, seperti yang diakui Ketua Dekranasda Sultra Tina Nur Alam. Sejak 1985, Dekranasda Sultra menjadi rumah pelestarian Kendari Werk yang hingga kini masih rutin memproduksi dan memasarkannya.

Para perajin direkrut dan dilatih Dekranasda Sultra dengan prospek pengangkatan mereka sebagai pegawai negeri sipil. Selain menerima gaji tetap, para perajin juga memperoleh tambahan upah dari setiap produk yang dihasilkan.

Meski begitu, tetap tidak mudah untuk merekrut orang dengan keterampilan dan kemauan untuk menekuni pembuatan perhiasan yang rumit itu. ”Kami membutuhkan paling tidak dua kali lipat perajin dari 15 perajin yang ada saat ini,” ujar Tina.

Hal itu demi mengikuti permintaan pasar akan produk Kendari Werk sambil tetap mempertahankan teknik dan proses pembuatan yang sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan perajin. ”Hal itu yang menjadi nilai tambah dan ciri khas Kendari Werk dibandingkan kerajinan-kerajinan perak lainnya,” ujar Tina.

Wantamori (50), koordinator perajin Kendari Werk di Dekranasda Sultra, mengatakan, selama bertahun-tahun sudah banyak orang yang direkrut menjadi perajin, tetapi banyak pula yang kemudian berhenti karena tak kerasan menekuni kerajinan itu. Dari 20 orang pertama yang direkrut Dekranasda pada 1985, hanya Wantamori yang masih bertahan.

Kerajinan ini rumit dan membutuhkan ketelatenan.
— Wantamori

”Kerajinan ini rumit dan membutuhkan ketelatenan,” ujarnya. Belum lagi proses pembuatan sebuah perhiasan yang panjang dan membutuhkan waktu lama. Setidaknya dibutuhkan 1-2 hari untuk membuat sebuah cincin atau bros bermotif sederhana.

Makin besar ukuran barang dan rumit motifnya, makin lama waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya. Wantamori pernah membuat sebuah miniatur kapal pinisi yang memakan waktu pengerjaan sebulan.

Proses panjang

Proses bermula dari peleburan bahan baku perak dan dicetak menjadi batangan seukuran jari orang dewasa. Setelah itu, batangan tersebut ditempa dan kemudian ditekan dengan alat pres yang diputar dengan tangan.

Setelah menjadi bentangan panjang, perak lalu ditarik dengan alat khusus untuk dibentuk menjadi kawat atau benang panjang. Ukuran yang bisa dihasilkan bervariasi, dari mulai yang terbesar, yakni 2,2 milimeter, hingga yang paling tipis 0,26 milimeter.

Kawat biasanya dijadikan kerangka atau bingkai perhiasan yang akan dibuat, sedangkan benang yang berukuran tipis menjadi bahan pengisi motif perhiasan atau kerawangnya. ”Harus berhati-hati dan memakai perasaan saat menarik perak menjadi benang. Kalau putus, perak harus dilebur ulang dan proses dimulai dari awal lagi,” kata Wantamori.

Benang lalu dipelintir untuk menciptakan kontur bergerigi yang indah. Proses lalu berlanjut dengan pembentukan kerangka perhiasan. Setelah kerangka jadi, barulah pengisian motif atau benang-benang perak bisa dilakukan. Di sinilah kerumitan makin bertambah.

Mimi (26), perajin spesialis pengisi kerawang, mengatakan butuh waktu seharian hanya untuk membuat kerawang sebuah bros kecil. Perlu ketelitian tinggi dan mata yang awas agar benang yang halus itu terjalin rapi di dalam kerangka.

Setelah selesai pengisian kerawang, perhiasan memasuki tahap akhir berupa penggosokan dan pemolesan untuk mengeluarkan kilau peraknya. Produk pun kemudian siap dipasarkan.

Proses produksi yang rumit dan minimnya perajin menjadi kendala penghambat berkembangnya Kendari Werk di Kendari. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kendari Syam Alam mengatakan, kurangnya minat perajin juga disebabkan banyak perajin yang lebih memilih mengolah emas ketimbang perak.

Hal itu karena margin keuntungan membuat perhiasan emas lebih besar ketimbang perak dengan keterampilan dan tenaga yang relatif sama. Contohnya, dengan harga perak mentah Rp 25.000 per gram, harga jual kembali dalam bentuk perhiasan jadi hanya berkisar Rp 40.000 per gram.

”Margin Rp 15.000 per gram tidak sebanding dengan tenaga, kesulitan, dan waktu yang dibutuhkan perajin. Berbeda dengan emas yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah,” kata Syam.

Saat ini terdapat tiga kelompok perajin Kendari Werk di luar Dekranasda Sultra yang masih bertahan. ”Kemampuan produksinya per tahun hanya 2-3 kilogram perak,” katanya.

Pemerintah Kota Kendari terus berupaya mempertahankan perajin yang tersisa dengan mengirimkan mereka mengikuti pelatihan-pelatihan. Dari segi pemasaran, Syam mengatakan pihaknya membantu dengan menyalurkan produk-produk Kendari Werk sebagai cendera mata.

Saat ini, Kendari Werk dipasarkan di ruang pamer Dekranasda Sultra, Dekranasda Kendari, kios di Bandara Haluoleo, dan salah satu toko penjual oleh-oleh di Kendari.

Masalah pemasaran jugalah yang awalnya membuat perajin Kendari Werk berbondong-bondong hijrah ke berbagai kota besar di Tanah Air, terutama Makassar, pascakemerdekaan.

Posisi Kendari yang bukan sebagai sentra perekonomian nasional ataupun regional serta tidak pula berstatus kota pariwisata membuat pemasaran produk premium tersebut seret. Hal itu berbeda jauh dengan nasib kerajinan perak di kota seperti Yogyakarta, Bali, ataupun Makassar yang ditopang kuatnya perekonomian lokal dan industri pariwisata.

Kapan Kendari Werk bisa kembali berjaya…? (Mohamad Final Daeng/Kompas)

Perak Sulawesi Tenggara yang Melegenda ” Kendari Werk”

Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sulawesi Tenggara

Seorang perajin di Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sulawesi Tenggara mengerjakan kerajinan perak khas Kota Kendari yang dikenal sebagai Kendari Werk. Kerajinan asli ibu kota Sulawesi Tenggara ini sudah langka ditemukan di tanah kelahirannya. Foto : Kompas/Mohamad Final Daeng

MATA Satipa (46) setengah memicing mengamati sebuah kerangka perak berwujud daun dengan ruas-ruas seukuran kuku orang dewasa. Menggunakan pinset, dijalinnya untaian benang perak yang telah dibentuk bergelombang ke dalam ruas-ruas itu.

Satipa sedang mengerjakan kerajinan legendaris dari Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang dikenal dengan sebutan ”Kendari Werk”. Motif kerajinan perak yang lahir pada awal abad ke-20 itu sudah sejak lama sohor akan keindahannya. Namanya menjadi jaminan karya bermutu tinggi.

Kendari Werk, atau yang berarti ”karya Kendari” dalam bahasa Belanda, merupakan salah satu jenis kerajinan perak dengan teknik filigree, metode yang jarang ditemui di sentra kerajinan perak lainnya di Tanah Air.

Teknik tersebut merangkaikan benang perak halus ke dalam kerangka atau bingkai yang juga berbahan perak. Benang dibentuk sesuai motif yang diinginkan sehingga menghasilkan kerawang yang halus, detail, dan rumit.

Salah satu keistimewaan Kendari Werk adalah dibuat dengan komposisi perak yang tinggi, minimal 97 persen. Sisanya adalah bahan lain seperti kuningan atau tembaga yang digunakan hanya untuk mematri.

Lahirlah produk aksesori berupa bros, cincin, kalung, gelang, anting, giwang, dan perhiasan lain untuk perempuan. Bisa pula berupa barang dekorasi, seperti miniatur perahu, rumah adat, hewan, dan barang fungsional seperti nampan kue.

Proses pembuatan, mulai dari pengerjaan batangan perak hingga pemolesan akhir, pun masih murni mengandalkan keterampilan tangan perajin dengan hanya dibantu peralatan manual. Sama sekali tidak ada sentuhan mesin serba otomatis.

Ironisnya, selama puluhan tahun terakhir, kerajinan asli ibu kota Sultra itu justru lebih berkembang di luar daerah, terutama di Makassar, Sulawesi Selatan. Meskipun demikian, nama Kendari Werk yang telah kondang tetap disandang.

Di tanah kelahirannya, kerajinan ini sudah sulit sekali ditemukan. Untunglah masih ada yang rutin memproduksi dan memasarkan kerajinan itu, yakni Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sultra.

Satipa adalah salah satu dari 15 perajin Kendari Werk yang dipekerjakan di Dekranasda Sultra. Ia menekuni pekerjaan ini sejak 22 tahun lalu. ”Menjadi perajin perak butuh kesabaran, ketekunan, dan ketelitian tinggi,” ujarnya saat ditemui di bengkel kerja Dekranasda Sultra beberapa waktu lalu.

Bros berbentuk daun yang tadi ia kerjakan, misalnya, menuntut seluruh sifat tersebut. Benang perak setipis rambut itu harus disusun rapi sesuai motif di dalam kerangka kecil. ”Mesti berhati-hati saat mengisi benang ke dalam kerangka. Salah sedikit bisa terbongkar dan harus mulai dari awal lagi,” ujar Satipa.

Sejarah Kendari Werk bermula dari kreasi seorang perajin perhiasan keturunan Tionghoa bernama Djie A Woi. Ia terinspirasi menciptakan model perhiasan dengan pola benang-benang rumit dan detail setelah melihat laba-laba yang membuat sarang. Bentuk sarang laba-laba itu lalu diterapkan menjadi motif perhiasan perak buatannya.

Tidak diketahui kapan persisnya Djie memulai kerajinan ini. Namun, dari buku Sejarah Kota Kendari karangan Anwar Hafid dan Misran Jafar (2007), disebutkan Kendari Werk berkembang tahun 1920.

Pada 1926, Pemerintah Hindia Belanda mengirimkan contoh karya Djie ke jaarbeurs (pameran) di Amsterdam dan meraih penghargaan. Dari situlah reputasi Kendari Werk sebagai kerajinan berkualitas tinggi mencuat dan kemudian banyak diekspor ke Eropa dan Australia.

Kamal Tandra (72), salah satu murid Djie yang memiliki toko emas dan perak Diamond di Kendari, mengatakan, karya Djie bahkan dipesan Ratu Elizabeth II dari Inggris dan Ratu Wilhelmina dari Belanda. ”Ratu Elizabeth memesan miniatur kereta kencana yang ditarik empat kuda, sedangkan Ratu Wilhelmina memesan nampan kue,” ujarnya.

Berkat karyanya itu, kedua ratu tersebut memberikan piagam penghargaan kepada Djie. ”Sayang, piagam itu hilang saat masa pengeboman Jepang,” kata Kamal.

Pascakemerdekaan 1945, yang diikuti dengan hengkangnya Belanda dari Nusantara, geliat bisnis Kendari Werk perlahan surut karena kesulitan pemasaran. Pasalnya, saat sebelum kemerdekaan, pemasaran produk Kendari Werk diperantarai para pedagang Belanda.

Kota sekecil Kendari kala itu tidak bisa menyerap produk tersebut. Banyak perajin yang gulung tikar atau beralih pekerjaan. Sebagian memilih hijrah ke kota-kota besar demi mencari pasar yang lebih baik, termasuk Makassar.

Para perajin yang hijrah itulah yang meneruskan produksi di perantauan. Di Kendari, kerajinan itu tinggal menyisakan nama.

Pada tahun 1985, dicoba dihidupkan kembali kerajinan ini. Pemerintah kala itu merekrut beberapa orang untuk dilatih menjadi perajin dengan status pegawai. Instrukturnya didatangkan dari Makassar atau perajin Kendari Werk yang masih ada di Kendari.

Ketua Dekranasda Sultra Tina Nur Alam mengatakan, pihaknya akan terus melestarikan kerajinan khas daerah ini. Hal itu antara lain dengan meregenerasi perajin dan meningkatkan keterampilan mereka secara berkala dengan melatih dan mengikutsertakan ke pameran kerajinan. Pelatihan khususnya pada aspek pengembangan desain dan model terbaru agar bisa mengikuti tren pasar.

Namun, di luar Dekranasda, geliat untuk menekuni kerajinan ini hampir punah. Kamal, misalnya, berhenti memproduksi Kendari Werk sejak tahun 2000. Padahal, toko Diamond milik mereka merupakan salah satu dari sedikit tempat di luar Dekranasda Sultra yang menyediakan produk tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kendari Syam Alam mengatakan, ada banyak faktor yang membuat kerajinan ini sulit bangkit seperti era kejayaannya dulu. Selain kendala pemasaran, nilai bisnis kerajinan perhiasan perak tersaingi jenis perhiasan lain, terutama emas.

Saat ini, di Kendari tinggal tersisa tiga kelompok perajin yang memproduksi Kendari Werk. Itu pun dengan produksi sangat terbatas dan disesuaikan dengan permintaan pasar.

Kendari Werk bagaikan legenda yang dirindukan…. (Mohamad Final Daeng/Kompas)

Tari Lariangi Asal Wakatobi Diusulkan Jadi Budaya Warisan Dunia

tari lariangi warisan budaya dunia asal wakatobi sulawesi tenggara

Wakatobi yang sarat dengan kekayaan potensi budaya, tidak disia-siakan, salah satu instansi terkait, dalam mengangkat potensinya agar diakui dunia. Tahun ini, salah satu budaya Wakatobi, yakni Tari Lariangi, sementara diupayakan, agar menjadi warisan dunia yang diakui lembaga UNESCO.
“Kekayaan potensi budaya Wakatobi, akan digali terus menerus, sehingga upaya-upaya pelestariannya, akan dilakukan dengan maksimal. Potensi budaya yang dimiliki Wakatobi, demikian banyak dan tidak dimiliki daerah lain, sehingga perlu upaya-upaya konkret dalam mengangkat dan melestarikannya,” terang Drs Tawakkal, Kapala dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wakatobi, kemarin.

Dijelaskan tari Lariangi ke UNESCO,  karena sudah banyak kali ditampilkan saat kegiatan-kegiatan publik. “Tarian ini juga pernah ditampilkan di NTB, saat mengikuti salah satu event  nasional di sana. Pendidikan tinggi ternama di Sultra (sulawesi Tenggara) yakni, Unhalu juga sering menjadikan tarian ini sebagai sampelnya. Dan tentu saja, melalui iven sail, sering dipertunjukkan kepada para pengunjung Wakatobi,” kata Tawakkal.

Pengusulan tari asal Kaledupa ini, agar diakui dunia melalui lembaga PBB UESCO, merupakan kepedulian yang harus diperjuangkan, sehingga dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selain Tari Lariangi, akan dilakukan penggalian potensi budaya lainnya, yang masih terpendam. “Karena Wakatobi, memiliki kekayaan budaya yang belum keluar dan hal itu harus digali kembali, sehingga bisa dilestarikan,” ujar Tawakkal.

Sumber : kendarinews.com

Seni Tari Honari Mosega dari Sulawesi Tenggara

tari honari mosegaIndonesia tak hanya dianugerahi dengan kekayaan alam yang indah, negeri ini juga di anugerahi dengan beragam kebudayaan yang unik dan menarik. Salah satu kebudayaan yang bisa Anda nikmati hingga sekarang adalah seni tari Honari Mosega.

Kesenian ini adalah tarian perang asli asal Liya, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kesenian Tari Tradisonal ini merupakan kebanggaan masyarakat Liya yang mengisahkan tarian berani.

Dahulu kala seni tari Honari Mosega di atraksikan sebelum dan sesudah perang. Tarian ini diadakan sebagai pengungkapan dan motivasi dari semangat prajurit Liya ketika akan berperang mengusir musuh dan kegembiraan mereka karena pulang dengan kemenangan keberhasilan menaklukan musuh.

Tari ini dimainkan oleh beberapa laki-laki, terdiri dari 1 penari inti disebut tompidhe dengan memegang tombak atau parang, dan dilengkapi dengan 1 atau 4 orang sebagai hulubalang yang disebut manu-manu moane dengan memegang tombak dan janur kuning sebagai penghalau bisa atau sihir. Kadang terdapat pula hulubalang wanita yang disebut manu-manu wowine serta 1 orang pemukul gendang atau tamburu.

Penari Tompidhe dan Manu-manu Moane dilengkapi dengan untaian gemerincing dan dalam gerakannya akan selalu menimbulkan bunyi. Terdapat gerakan meloncat dan maju lalu mundur secara beraturan sebagai gerakan silat Liya yang disebut Makanjara, yang dilakukan karena kegembiraan atas kemenangan mereka dalam berperang.

Tari Honari Mosega selama masa kesultanan buton sering ditampilkan pada acara-acara penyambutan tamu agung, maupun perangkatnya serta acara-acara adat yang berlaku hanya dalam lingkup keturunan para bangsawan Liya.(sumber : gema-budaya.blogspot.com)

Wakatobi Target Juara Umum MTQ XXIV Tingkat Sultra

mtq sultraPelaksanaan Musbaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXIV tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang ditempatkan di Kabupaten Wakatobi 29 Maret – 6 April mendatang merupakan salah satu syiar untuk mengangkat Wakatobi pada ajang religius. Demikian disampaikan Bupati Wakatobi, Ir Hugua, beberapa hari lalu. Dikatakannya, dalam kehidupan beragama melalui MTQ tentu sebagai salah satu pertarungan peradaban. Dimana, dalam peradaban itu tercermin sebuah kebudayaan. Kebudayaan merupakan satu khasanah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. “Sebuah kebudayaan yang membedakan kita manusia dengan makhluk lainnya,” katanya.

Untuk itu, imbuh Hugua, Wakatobi sebagai daerah yang dipersiapakan sebagai pengembangan pariwisata di bagian timur indonesia, tidak akan terpengaruh dengan budaya lainnya. Wakatobi akan tetap menonjolkan budaya tersendiri yang tidak dimiliki daerah lainnya di indonesia. Begitu pula menghadapi event religius (MTQ, red) mendatang, Wakatobi akan menampilkan tari khas daerahyag tentunya akan dikemas melalui tari klosal pada pembukaan MTQ nanti.

Dijelaskannya, tari klosal yang akan ditampilkan pada pembukaan MTQ  nanti, merupakan perpaduan antara kebudayaan Wakatoi bernuansa alami namun tentunya tidak akan menghilangkan sentuhan religi. “Tari klosal yang akan ditampilkan pada pembukaan MTQ nanti, yakni tari klosal yang mencerminkan kebudayaan Wakatobi bernuansa alami dan tidak akan mengadopsi budaya lain,” jelas Hugua.

Ditanya soal target juara umum dimana Wakatobi sebagai tuan rumah,  Hugua, dengan optimisnya mengatakan kafilaf-kafilah Wakatobi tetap akan berupaya tampil maksimal. Dan Wakatobi menargetkan juara umum. “Kita (Wakatobi, red) menargetkan juara umum,” tukas Hugua.(Sumber : Sultra-Online.com)

Budaya Lokal Jadi Kekuatan Integritas Masyarakat

workshop budayaAdanya arus modernisasi dan globalisasi telah berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat, yakni mengikisnya nilai-nilai budaya, etika, dan prilaku sosial budaya, khususnya di kalangan generasi muda. Sehingga adanya pengikisan nilai-nilai budaya itu berakibat kepada melemahnya karakter dan integritas masyarakat khususnya di kalangan generasi muda.

Berdasar latar belakang ini, Lembaga Diskusi dan Kajian Jurnalis (LDKJ) bekerjasama dengan Pemerintah Kota kendari menyelenggarakan Workshop dengan tema ” Revitalisasi Budaya Lokal Sebagai Penguatan Karakter dan Integritas Bagi Pelajar dan Mahasiswa”.  Workshop berlangsung di Hotel Kubra Kendari, Kamis – Jumat (14-15/3).

Direktur Eksekutif LDKJ, Jumwal Shaleh SP, saat membuka acara workshop tersebut mengatakan,  saat ini sudah banyak generasi muda yang sudah tidak mengetahui lagi nilai-nilai budaya lokal dari kommunitasnya. Padahal, kata Jumwal, budaya lokal sebenarnya sangat kaya dengan nilai-nilai tata kehidupan bermasyarakat yang baik dan bermoral.

“Saat ini  lagi tren diangkat kembali pendidikan karakter dan integritas, padahal jika kita memahami nilai-nilai budaya lokal, pendidikan seperti itu semuanya ada di dalam. Olehnya kita harus menghilangkan pemikiran bahwa mempelajari budaya lokal itu adalah kuno, tidak gaul, tidak modern,” katanya.

Jumwal juga mengajak para peserta workshop jangan selalu mempertentangkan identitas etnis sehingga berujung pada konflik, karena sesungguhnya identitas etnis itu adalah sunatullah. “Dalam kita lahir di dunia ini, kita tidak pernah memilih untuk terlahir orang Muna, Tolaki, Buton, Bugis, atau etnis lainnnya. Olehnya itu, etnis biarnya menjadi identitas, tetapi jangan menjadi sumber pertentangan. Marilah hal itu kita jadikan kekayaan untuk saling kenal dan bersama dalam suatu kehidupan ini,” ujarnya.

Ketua panitia pelenggaran, Pendais Haq SAg MPd menjelaskan, workshop yang berlangsung dua hari dibagi dalam dua sesi, yakni pertama berupa refleksi pemahaman dasar peserta tentang revitalisasi budaya dalam penguatan karakter dan integritas.

Dalam acara ini menghadirkan nara sumber, yakni, La Ode Safiun Arihi SPd MPd tentang konsep dan urgensi pendidikan karakter, Muh Abas SPd Mpd (strategi penguatan karakter dan integritas dalam perspektif sosial budaya.  Selain itu dari Pemerintah Kota Kendari tentang kebijakan dan strategi pemerintah Kota Kendari dalam penguatan karakter dan integritas generasi muda, dan Pendais Haq SAg MPd mengenai refleksi sosial budaya atas berbagai aksi sosial pelajar dan mahasiswa.

Pada hari kedua, Jumat (15/3) besok akan diisi dengan diskusi terfokus mengenai topik baik berupa brainstorming maupun melakukan identifikasi masalah dan penyebab serta berbagai ancaman masalah-masalah sosial pelajar dan mahsiswa khususnya terkait melemahnya karakter dan integritas generasi muda. Setelah itu merumuskan langkah-langkah bersama dan membangun konsesus terkait penguatan kearifan budaya lokal.

Workshop ini diikuti tiidak kurang dari 30 peserta terdiri dari pelajar perwakilan OSIS SMA se-Kota Kendari, dan mahasiswa, perwakilan organisasi intra kampus, ekstra kampus, dan organisasi berbasis etnik.(Sumber : Kendarinews.com)

Ibu Wagub Sultra Kunjungi Pusat Kebudayaan Wolio

kebudayaan wolioKamis 21 Februari 2013 Tepatnya pukul 10 Pagi, ibu Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Ny Itoh Saleh Lasata bersama dengan Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kota Baubau Ny. Sartini Tamrin, S.Pd. mengunjungi Pusat Kebudayaan Wolio yang berada di Kel. Badia Kecamatan Murhum Kota Baubau.  Bersama dengan beberapa tamu yang berasal dari Kota Bandung kedatangan Ny Itoh  disambut langsung oleh Wakil Walikota Baubau Ny Wa Ode Maasra Manarfa yang juga merupakan salah Kerabat dari Sultan Buton ke La Ode Manarfa .

Setelah sedikit bercengkrama dengan Ny Maasra Manarfa Ibu Wakil Gubernur Sultra Ny  Itoh saleh lasata  bersama dengan rombongan langsung bergegas mengelilingi hampir setiap sudut runagan yang ada di bangunan yang biasa juga dikatakan sebagai musium peninggalan sejarah wolio ini.  Begitu banyak yang menarik perhatian Beliau bersama rombongan, salah satunya yaitu foto-foto tempo dulu yang secara umum berhasil menggambarkan sejarah singkat mengenai  kesultanan Buton.

Perjalanan tidak hanya sampai di lantai utama, dengan keadaan yang masih tetap semangat beliau bersama rombongan kemudian naik ke lantai atas. Disini mereka disuguhi dengan benda-benda antik peninggalan Sultan. diataranya, peralatan masak yang terbuat dari besi dan ukurannya relatif besar. Sembari memperhatikan benda-benda peninggalan sejarah, bersama dengan rombongan Ny Itoh Saleh Lasata juga terus menyimak penjelasan mengenai fungsi dan manfaat dari  benda-benda peninggalan sejarah yang ada di Musium ini.

Kunjungan pun selesai Setelah hampir satu jam mengelilingi setiap sudut ruangan yang ada di musium ini. sebelum berpamitan Ny Itoh menyampaikan ucapan terimakasih sekaligus kekaguman terhadap  kelestarian peninggalan sejarah yang ada di Kota Baubau. “ Hampir semua sudut di Kota Baubau ini mempunyai situs-situs peninggalan sejarah yang masih tetap terus terjaga kelestariannya salah satunya adalah Pusat Kebudayaan Wolio ini, ini harus terus dilestarikan da dapat dijadikan sebagai obtek wisata khusunya wisata Budaya.” Ungkap Beliau.(Sumber : baubaukota.go.id)