La Ode Ida Bergabung Dengan PAN

Laode Ida Caleg PAN dari SULTRA , sulawesi tenggara

 

Wakil Ketua DPD RI La Ode Ida memilih menjadi calon anggota legislatif dari Partai Amanat Nasional dalam Pemilu Legislatif 2014.

“Saya memutuskan bergabung dengan PAN dan siap menjadi caleg,” kata La Ode Ida di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Selasa.

Menurut La Ode Ida, langkahnya memilih PAN meskipun baru diputuskan sekarang, tapi sudah dipertimbangkan sejak lama, hampir setahun lalu.

Selama waktu hampir setahun tersebut La Ode mengaku banyak melakukan pergulatan batin maupun berdiskusi dengan sejumlah teman dekat, apakah akan terus bertahan di DPD RI hingga selesai atau memilih menjadi calon anggota DPR RI melalui PAN.

Salah satu pergulatan batin La Ode Ida adalah soal kewenangan DPD RI yang minim serta perjuangan gugatan uji materi dari anggota DPD RI untuk bisa membahas RUU bersama DPR RI.

“Saya akhirnya memutuskan bergabung ke PAN dan menjadi caleg dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara setelah mendapat dorongan dari dua teman saya, AM Fatwa (Anggota DPD RI) dan Nur Alam (Gubernur Sulawesi Tenggara),” katanya.

Anggota DPD RI dari Provinsi Sulawesi Tenggara ini menambahkan, pada saat itu dirinya dan AM Fatwa bersama-sama mendukung Nur Alam untuk menjadi Gubernur Sulawesi Utara periode 2013-2018.

La Ode juga mengaku memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang dengan PAN yang didirikan oleh Amien Rais.

“Pada era tahun 1998 saya turut berjuang menggolkan reformasi, sehingga bergabung ke PAN saat ini untuk melanjutkan agenda reformasi yang tidak boleh gagal,” katanya.

La Ode juga menilai PAN memiliki kecenderungan meningkat pada 2014 sehingga ia memilih PAN.

Pada kesempatan tersebut, La Ode Ida juga membantah telah bergabung dengan Partai Golkar. La Ode menegaskan selama ini dia belum menjadi anggota Partai Golkar.

“Saya memang pernah menghadiri acara Partai Golkar di Jakarta. Pada saat itu saya diminta mengenakan jaket kuning Partai Golkar. Itu saja, tapi belum menjadi anggota Partai Golkar,” katan(tp)

Sumber: ANTARA

Kendari Werk dalam Pusaran Zaman

perhiasan-perak-khas-kendari

Pekerja di ruang pamer Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sulawesi Tenggara memperlihatkan beragam produk perhiasan perak khas Kota Kendari yang dikenal sebagai Kendari Werk. Foto : Kompas/Mohamad Final Daeng.

Kamal Tandra (72) sibuk mengelap kaca penutup sebuah miniatur kapal pinisi buatannya. Hiasan yang sepenuhnya terbuat dari perak dengan jalinan halus itu merupakan sebagian kerajinan Kendari Werk yang masih tersisa di tokonya.

Sudah 13 tahun terakhir toko perhiasan Diamond milik Kamal di daerah sibuk Mandonga, Kendari, tak lagi memproduksi kerajinan perak khas Kendari Werk. Ia pun kini hanya memajang beberapa perhiasan stok lama sisa produksi, termasuk miniatur pinisi tadi.

”Sudah tak ada lagi pekerjanya,” ujar Kamal, akhir Maret lalu. Sebelumnya, ia memiliki 14 perajin Kendari Werk, tetapi satu per satu berhenti atau beralih ke profesi lain. Hal ini juga sebagai dampak dari lesunya penjualan perhiasan jenis itu di tokonya.

Kamal sebenarnya masih ingin meneruskan memproduksi kerajinan perak asli Kendari itu. Meskipun tak sering, masih ada pelanggan atau rombongan turis yang datang menanyakan Kendari Werk.

Namun, ia terkendala dalam mencari tenaga perajin baru. Pasalnya, tak sembarang orang bisa menguasai pembuatan Kendari Werk yang terkenal rumit itu. Selain membutuhkan jiwa seni dan keterampilan tinggi, perajin juga harus tekun, teliti, dan sabar.

Kekurangan perajin juga dialami Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulawesi Tenggara, seperti yang diakui Ketua Dekranasda Sultra Tina Nur Alam. Sejak 1985, Dekranasda Sultra menjadi rumah pelestarian Kendari Werk yang hingga kini masih rutin memproduksi dan memasarkannya.

Para perajin direkrut dan dilatih Dekranasda Sultra dengan prospek pengangkatan mereka sebagai pegawai negeri sipil. Selain menerima gaji tetap, para perajin juga memperoleh tambahan upah dari setiap produk yang dihasilkan.

Meski begitu, tetap tidak mudah untuk merekrut orang dengan keterampilan dan kemauan untuk menekuni pembuatan perhiasan yang rumit itu. ”Kami membutuhkan paling tidak dua kali lipat perajin dari 15 perajin yang ada saat ini,” ujar Tina.

Hal itu demi mengikuti permintaan pasar akan produk Kendari Werk sambil tetap mempertahankan teknik dan proses pembuatan yang sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan perajin. ”Hal itu yang menjadi nilai tambah dan ciri khas Kendari Werk dibandingkan kerajinan-kerajinan perak lainnya,” ujar Tina.

Wantamori (50), koordinator perajin Kendari Werk di Dekranasda Sultra, mengatakan, selama bertahun-tahun sudah banyak orang yang direkrut menjadi perajin, tetapi banyak pula yang kemudian berhenti karena tak kerasan menekuni kerajinan itu. Dari 20 orang pertama yang direkrut Dekranasda pada 1985, hanya Wantamori yang masih bertahan.

Kerajinan ini rumit dan membutuhkan ketelatenan.
— Wantamori

”Kerajinan ini rumit dan membutuhkan ketelatenan,” ujarnya. Belum lagi proses pembuatan sebuah perhiasan yang panjang dan membutuhkan waktu lama. Setidaknya dibutuhkan 1-2 hari untuk membuat sebuah cincin atau bros bermotif sederhana.

Makin besar ukuran barang dan rumit motifnya, makin lama waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya. Wantamori pernah membuat sebuah miniatur kapal pinisi yang memakan waktu pengerjaan sebulan.

Proses panjang

Proses bermula dari peleburan bahan baku perak dan dicetak menjadi batangan seukuran jari orang dewasa. Setelah itu, batangan tersebut ditempa dan kemudian ditekan dengan alat pres yang diputar dengan tangan.

Setelah menjadi bentangan panjang, perak lalu ditarik dengan alat khusus untuk dibentuk menjadi kawat atau benang panjang. Ukuran yang bisa dihasilkan bervariasi, dari mulai yang terbesar, yakni 2,2 milimeter, hingga yang paling tipis 0,26 milimeter.

Kawat biasanya dijadikan kerangka atau bingkai perhiasan yang akan dibuat, sedangkan benang yang berukuran tipis menjadi bahan pengisi motif perhiasan atau kerawangnya. ”Harus berhati-hati dan memakai perasaan saat menarik perak menjadi benang. Kalau putus, perak harus dilebur ulang dan proses dimulai dari awal lagi,” kata Wantamori.

Benang lalu dipelintir untuk menciptakan kontur bergerigi yang indah. Proses lalu berlanjut dengan pembentukan kerangka perhiasan. Setelah kerangka jadi, barulah pengisian motif atau benang-benang perak bisa dilakukan. Di sinilah kerumitan makin bertambah.

Mimi (26), perajin spesialis pengisi kerawang, mengatakan butuh waktu seharian hanya untuk membuat kerawang sebuah bros kecil. Perlu ketelitian tinggi dan mata yang awas agar benang yang halus itu terjalin rapi di dalam kerangka.

Setelah selesai pengisian kerawang, perhiasan memasuki tahap akhir berupa penggosokan dan pemolesan untuk mengeluarkan kilau peraknya. Produk pun kemudian siap dipasarkan.

Proses produksi yang rumit dan minimnya perajin menjadi kendala penghambat berkembangnya Kendari Werk di Kendari. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kendari Syam Alam mengatakan, kurangnya minat perajin juga disebabkan banyak perajin yang lebih memilih mengolah emas ketimbang perak.

Hal itu karena margin keuntungan membuat perhiasan emas lebih besar ketimbang perak dengan keterampilan dan tenaga yang relatif sama. Contohnya, dengan harga perak mentah Rp 25.000 per gram, harga jual kembali dalam bentuk perhiasan jadi hanya berkisar Rp 40.000 per gram.

”Margin Rp 15.000 per gram tidak sebanding dengan tenaga, kesulitan, dan waktu yang dibutuhkan perajin. Berbeda dengan emas yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah,” kata Syam.

Saat ini terdapat tiga kelompok perajin Kendari Werk di luar Dekranasda Sultra yang masih bertahan. ”Kemampuan produksinya per tahun hanya 2-3 kilogram perak,” katanya.

Pemerintah Kota Kendari terus berupaya mempertahankan perajin yang tersisa dengan mengirimkan mereka mengikuti pelatihan-pelatihan. Dari segi pemasaran, Syam mengatakan pihaknya membantu dengan menyalurkan produk-produk Kendari Werk sebagai cendera mata.

Saat ini, Kendari Werk dipasarkan di ruang pamer Dekranasda Sultra, Dekranasda Kendari, kios di Bandara Haluoleo, dan salah satu toko penjual oleh-oleh di Kendari.

Masalah pemasaran jugalah yang awalnya membuat perajin Kendari Werk berbondong-bondong hijrah ke berbagai kota besar di Tanah Air, terutama Makassar, pascakemerdekaan.

Posisi Kendari yang bukan sebagai sentra perekonomian nasional ataupun regional serta tidak pula berstatus kota pariwisata membuat pemasaran produk premium tersebut seret. Hal itu berbeda jauh dengan nasib kerajinan perak di kota seperti Yogyakarta, Bali, ataupun Makassar yang ditopang kuatnya perekonomian lokal dan industri pariwisata.

Kapan Kendari Werk bisa kembali berjaya…? (Mohamad Final Daeng/Kompas)

Perak Sulawesi Tenggara yang Melegenda ” Kendari Werk”

Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sulawesi Tenggara

Seorang perajin di Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sulawesi Tenggara mengerjakan kerajinan perak khas Kota Kendari yang dikenal sebagai Kendari Werk. Kerajinan asli ibu kota Sulawesi Tenggara ini sudah langka ditemukan di tanah kelahirannya. Foto : Kompas/Mohamad Final Daeng

MATA Satipa (46) setengah memicing mengamati sebuah kerangka perak berwujud daun dengan ruas-ruas seukuran kuku orang dewasa. Menggunakan pinset, dijalinnya untaian benang perak yang telah dibentuk bergelombang ke dalam ruas-ruas itu.

Satipa sedang mengerjakan kerajinan legendaris dari Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang dikenal dengan sebutan ”Kendari Werk”. Motif kerajinan perak yang lahir pada awal abad ke-20 itu sudah sejak lama sohor akan keindahannya. Namanya menjadi jaminan karya bermutu tinggi.

Kendari Werk, atau yang berarti ”karya Kendari” dalam bahasa Belanda, merupakan salah satu jenis kerajinan perak dengan teknik filigree, metode yang jarang ditemui di sentra kerajinan perak lainnya di Tanah Air.

Teknik tersebut merangkaikan benang perak halus ke dalam kerangka atau bingkai yang juga berbahan perak. Benang dibentuk sesuai motif yang diinginkan sehingga menghasilkan kerawang yang halus, detail, dan rumit.

Salah satu keistimewaan Kendari Werk adalah dibuat dengan komposisi perak yang tinggi, minimal 97 persen. Sisanya adalah bahan lain seperti kuningan atau tembaga yang digunakan hanya untuk mematri.

Lahirlah produk aksesori berupa bros, cincin, kalung, gelang, anting, giwang, dan perhiasan lain untuk perempuan. Bisa pula berupa barang dekorasi, seperti miniatur perahu, rumah adat, hewan, dan barang fungsional seperti nampan kue.

Proses pembuatan, mulai dari pengerjaan batangan perak hingga pemolesan akhir, pun masih murni mengandalkan keterampilan tangan perajin dengan hanya dibantu peralatan manual. Sama sekali tidak ada sentuhan mesin serba otomatis.

Ironisnya, selama puluhan tahun terakhir, kerajinan asli ibu kota Sultra itu justru lebih berkembang di luar daerah, terutama di Makassar, Sulawesi Selatan. Meskipun demikian, nama Kendari Werk yang telah kondang tetap disandang.

Di tanah kelahirannya, kerajinan ini sudah sulit sekali ditemukan. Untunglah masih ada yang rutin memproduksi dan memasarkan kerajinan itu, yakni Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sultra.

Satipa adalah salah satu dari 15 perajin Kendari Werk yang dipekerjakan di Dekranasda Sultra. Ia menekuni pekerjaan ini sejak 22 tahun lalu. ”Menjadi perajin perak butuh kesabaran, ketekunan, dan ketelitian tinggi,” ujarnya saat ditemui di bengkel kerja Dekranasda Sultra beberapa waktu lalu.

Bros berbentuk daun yang tadi ia kerjakan, misalnya, menuntut seluruh sifat tersebut. Benang perak setipis rambut itu harus disusun rapi sesuai motif di dalam kerangka kecil. ”Mesti berhati-hati saat mengisi benang ke dalam kerangka. Salah sedikit bisa terbongkar dan harus mulai dari awal lagi,” ujar Satipa.

Sejarah Kendari Werk bermula dari kreasi seorang perajin perhiasan keturunan Tionghoa bernama Djie A Woi. Ia terinspirasi menciptakan model perhiasan dengan pola benang-benang rumit dan detail setelah melihat laba-laba yang membuat sarang. Bentuk sarang laba-laba itu lalu diterapkan menjadi motif perhiasan perak buatannya.

Tidak diketahui kapan persisnya Djie memulai kerajinan ini. Namun, dari buku Sejarah Kota Kendari karangan Anwar Hafid dan Misran Jafar (2007), disebutkan Kendari Werk berkembang tahun 1920.

Pada 1926, Pemerintah Hindia Belanda mengirimkan contoh karya Djie ke jaarbeurs (pameran) di Amsterdam dan meraih penghargaan. Dari situlah reputasi Kendari Werk sebagai kerajinan berkualitas tinggi mencuat dan kemudian banyak diekspor ke Eropa dan Australia.

Kamal Tandra (72), salah satu murid Djie yang memiliki toko emas dan perak Diamond di Kendari, mengatakan, karya Djie bahkan dipesan Ratu Elizabeth II dari Inggris dan Ratu Wilhelmina dari Belanda. ”Ratu Elizabeth memesan miniatur kereta kencana yang ditarik empat kuda, sedangkan Ratu Wilhelmina memesan nampan kue,” ujarnya.

Berkat karyanya itu, kedua ratu tersebut memberikan piagam penghargaan kepada Djie. ”Sayang, piagam itu hilang saat masa pengeboman Jepang,” kata Kamal.

Pascakemerdekaan 1945, yang diikuti dengan hengkangnya Belanda dari Nusantara, geliat bisnis Kendari Werk perlahan surut karena kesulitan pemasaran. Pasalnya, saat sebelum kemerdekaan, pemasaran produk Kendari Werk diperantarai para pedagang Belanda.

Kota sekecil Kendari kala itu tidak bisa menyerap produk tersebut. Banyak perajin yang gulung tikar atau beralih pekerjaan. Sebagian memilih hijrah ke kota-kota besar demi mencari pasar yang lebih baik, termasuk Makassar.

Para perajin yang hijrah itulah yang meneruskan produksi di perantauan. Di Kendari, kerajinan itu tinggal menyisakan nama.

Pada tahun 1985, dicoba dihidupkan kembali kerajinan ini. Pemerintah kala itu merekrut beberapa orang untuk dilatih menjadi perajin dengan status pegawai. Instrukturnya didatangkan dari Makassar atau perajin Kendari Werk yang masih ada di Kendari.

Ketua Dekranasda Sultra Tina Nur Alam mengatakan, pihaknya akan terus melestarikan kerajinan khas daerah ini. Hal itu antara lain dengan meregenerasi perajin dan meningkatkan keterampilan mereka secara berkala dengan melatih dan mengikutsertakan ke pameran kerajinan. Pelatihan khususnya pada aspek pengembangan desain dan model terbaru agar bisa mengikuti tren pasar.

Namun, di luar Dekranasda, geliat untuk menekuni kerajinan ini hampir punah. Kamal, misalnya, berhenti memproduksi Kendari Werk sejak tahun 2000. Padahal, toko Diamond milik mereka merupakan salah satu dari sedikit tempat di luar Dekranasda Sultra yang menyediakan produk tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kendari Syam Alam mengatakan, ada banyak faktor yang membuat kerajinan ini sulit bangkit seperti era kejayaannya dulu. Selain kendala pemasaran, nilai bisnis kerajinan perhiasan perak tersaingi jenis perhiasan lain, terutama emas.

Saat ini, di Kendari tinggal tersisa tiga kelompok perajin yang memproduksi Kendari Werk. Itu pun dengan produksi sangat terbatas dan disesuaikan dengan permintaan pasar.

Kendari Werk bagaikan legenda yang dirindukan…. (Mohamad Final Daeng/Kompas)

Kendari-Makassar-Manado Butuh Jalur Kereta Api

Manado-Makassar-Kendari Butuh Jalur Kereta Api

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu’mang meminta pemerintah pusat segera membangun jalur kereta api di pulau Sulawesi. Jalur kereta ini dibutuhkan untuk menghubungkan kota Makassar, Manado dan Kendari.

Dengan adanya jalur kereta di tiga kota utama Sulawesi itu, mahalnya biaya transportasi yang selama ini dikeluhkan pengusaha, bisa ditekan.

“Jika antara pulau Jawa dan Sumatera akan dibangun Jembatan Selat Sunda, kami di Sulawesi hanya butuh kereta api,” kata Agus saat Sarasehan Ekonomi 2013 di Grand Clarion Hotel, Senin 8 April 2013.

Menurut Agus, Sulawesi memiliki potensi sumber daya alam melimpah. Namum potensi itu belum dimanfaatkan secara maksimal karena buruknya infrastruktur. Dengan adanya jalur kereta api yang menghubungkan kota-kota besar di pulau Sulawesi, Agus yakin, semua hasil bumi milik masyarakat bisa dengan mudah dan cepat sampai ke tempat tujuan. “Tidak akan ada lagi hasil bumi yang rusak sebelum sampai ke pasar,” katanya.

Jalur kereta api di Sulawesi sudah masuk dalam tahap perencanaan. Sulawesi Selatan akan memulainya dengan membangun proyek kereta api lintas Maros, Makassar, Sungguminasa, Takalar (Mamminasata). Dana yang dianggarkan untuk pembangunan lintasan sebesar Rp 4 triliun.

sumber dan foto : tempo.co / id.berita.yahoo.com

Perintah Hakim Terlaksana, Hasilnya “Enjel”

asisten pidana khusus kejati sulawesi tenggara

Asisten pidana khusus Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Tomo, SH salah satu anggota tim penuntutan mengatakan, telah melakukan koordinasi dan meminta kepala kejaksaan negeri Kolaka selaku penanggungjawab perkara untuk membuat surat secara tertulis kepada direktur rumah sakit umum Cipto Mangunkusomo untuk melakukan pemeriksaan selaku dokter yang bersifat independen atau dokter pemerintah sebagaimana yang diperintahkan majelis hakim dalam persidangan (3/4/2013) lalu.

“Hasilnya, belum ada konfirmasi dari tim yang ada di pusat, karena surat tersebut, Senin, (8/4/2013) baru ada kesempatan untuk meneruskan ke rumas sakit tersebut, ini disebabkan karena usai sidang pada Rabu (3/4/2013) kami langsung buat surat. Pada hari itu, tim kami tidak mendapatkan tiket, jadi berangkat pada Kamis (4/4/2013). Nah hari Jumat adalah waktu yang sangat singkat di jakarta, Sabtu dan Minggu hari libur sehingga Senin baru sempat diteruskan dan kami belum mendapatkan konfirmasi balik dari tim di pusat, itu sudah kami lakukan,” terang Tomo diruang kerjanya, Senin (8/4/2013).Menurutnya, semua pihak untuk bersabar menunggu rekomendasi dokter/rumah sakit independen karena fakta persidangan sudah dilakukan sehingga pihaknya tidak ingin berandai-andai. “Kita tunggu saja, apakah besok rekomendasinya datang atau lusa, kita tunggu saja Rabu pada hari sidang nanti, apapun yang terjadi, apakah ada dokter pembanding atau tidak, apakah kedua terdakwa hadir atau tidak kami tetap hadir dipersidangan,”katanya.

Sebelumnya, sidang perdana terdakwa Bupati Kolaka Buhari Matta, dan Managing Director PT. Kolaka Mining Internasional Atto Sakmiwata Sampetoding (ASS) digelar Rabu (3/4). Dalam sidang tersebut kedua terdakwa tidak menghadiri sidang perdana di Pengadilan tipikor Kendari, Sulawesi Tenggara. Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum, Andar Perdana, dihadapan Ketua Majelis Hakim, Aminuddin mengatakan ketidakhadiran BM dan ASS pada sidang perdana yang dibuka sekitar pukul 12.15 Wita karena kedua terdakwa sedang sakit.

sumber dan Foto : (Mas’ud) kendarinews.com

Buhari Matta Nonaktif Amir Sahaka Pelaksana Bupati Kolaka

Mendagri Menepati janji. Buhari Matta (BM), kini telah dinonaktifkan dari jabatan sebagai bupati Kolaka. Hal itu terjadi setelah   menjadi terdakwa di Pengadilan Tipikor Kendari.  Wakil Bupati Kolaka Amir Sahaka  ditunjuk menjadi  pelaksana. Hanya saja, SK nonaktif BM masih dirahasiakan. Rencananya gubernur Sultra akan menyerahkan langsung SK penunjukan Amir Sahaka, 10 April mendatang.
Kabar itu disampaikan  juru bicara Amir Sahaka, Rusman. Menurut dia,  Amir Sahaka sudah menerima kutipan SK penunjukannya sebagai pelaksana sejak  Jumat (5/4) lalu.  “Beliau ditunjuk untuk jangka waktu yang tidak ditentukan,” jelasnya.

Penyerahan SK Amir Sahaka sejatinya  (Senin, 8/4). Namun diundur, menunggu kesiapan gubernur.

“Rencananya Pak Gubernur  Sultra ke Sulawesi Selatan dulu untuk hadiri pelantikan gubernur Sulsel, Rabunya ke Kolaka membawa SK,” katanya lagi. Hal sama juga ditegaskan Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Sultra, Tony Herbiansyah yang saat itu kebetulan berada di Jakarta bersama Amir Sahaka. Ia mengaku menemani Amir Sahaka saat menerima kutipan SK di Kemendagri.

“Pak Amir Sahaka sudah ditunjuk sebagai pelaksana. Saya bersama beliau tadi,” katanya. Sayangnya, Amir Sahaka yang coba dimintai kejelasan, masih tampak malu-malu. Ia tidak mau membenarkan ataupun menepis kabar tersebut. Ia hanya meminta seluruh warga Kolaka menunggu kejutan di hari Rabu.

“Tunggu mi dulu, nanti mi hari Rabu kejelasannya,” katanya ketika ditemui di rujab Wabup Kolaka. “Saat ini saya belum pegang SKnya. Nanti kalau saya sudah pegang, baru jelas. Besok (hari ini) ada radiogram dari Mendagri langsung ke Pemprov tentang penunjukkan pelaksana bupati Kolaka,” tandasnya.

Meski begitu, Amir Sahaka sudah disambut simpatisannya di Bandara Haluoleo Kendari. Ia diarak menuju Kolaka. Di perbatasan Konawe-Kolaka, puluhan massa sudah menunggu konvoi dan ikut bergabung mengantar Amir Sahaka sampai ke Kolaka.

“Terimakasih kepada saudara semua yang telah mengantar dan mengucapkan selamat,” kata Amir Sahaka.

Sejak tahun Juni 2011 lalu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi sudah mengancang -ancang mengeluarkan  SK Nonaktif BM. Namun molor karena  BM belum menyandang status sebagai terdakwa.

Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kemendagri, Djohermansyah Djohan kala itu tak mau gegabah mengeluarkan  SK penonaktifan.

“Tersangka itu kan baru disangka, suspect, dan belum didakwa atau jadi terdakwa,” kata Djohermansyah Djohan dalam pesan pendeknya kepada wartawan.

Sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh  Kejaksaan Agung RI, sejumlah elemen masyarakat mendesak  Buhari Matta nonaktif sebagai Bupati Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kejagung  juga diminta agar segera meproses kasus dugaan korupsi tersebut.

Kejaksaan RI, melalui bidang tindak pidana khusus  menetapkan dua tersangka  dugaan  korupsi nikel kadar rendah, , BM (Bupati Kolaka) berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: Print-90/F.2/Fd.1/06/2011, tanggal 30 Juni 2011, dan lalu, ASS (Managing Director PT. Kolaka Mining Internasional) berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: Print 91/F.2/Fd.1/06/2011, tanggal 30 Juni 2011. Katanya, perkembangan sementara atas penyidikan tersebut, telah dilakukan pemeriksaan sebanyak 22 orang saksi.

“Lalu, ahli keuangan negara sudah dimintai pendapat, dan telah dilakukan pemeriksaan Ahli (BPKP),”sebutnya.

 

Sumber : kendarinews.com

Gubernur Nur Alam Berencana membangun Tambang Di Bawah Tanah

 

Gubernur Nur Alam Kendari Sulawesi Tenggara

Gubernur Sulawesi Tenggara H. Nur Alam SE MSI

kunjungan kerja ke Australia , tepatnya di Kota Perth provinsi Autralia Barat, Gubernur Sultra, H Nur Alam SE Msi  membahas banyak hal mulai dari penataan kota ,kerjasama di bidang pendidikan dan perekonomian untuk sector pertambangan Gubernur berencana untuk membangun lokasi pertambangan didalam tanah.

“Banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan membuat pertambangan didalam tanah, mulai dari segi manfaat sampai keindahan, semua jauh lebih baik dibandingkan lokasi pertambangan di atas permukaan,” jelas Pak Gubernur Sultra Nur Alam.

Gubernur yang baru saja dilantik untuk kedua kalinya ini juga menegaskan bahwa pemerintah Sulawesi Tenggara akan bekerjasama dengan Australia terkait pengadaan fasilitas ataupun untuk tenaga spesialisnya.

“Keuntungan yang bisa kita peroleh adalah sisa lokasi pertambangan yang dapat dijadikan tempat wisata, juga mengurangi dampak pencemaran, sampai keuntungan lebih banyak yang dapat diperoleh oleh daerah,” jelasnya.

Secara keseluruhan Provinsi Australia Barat dan Sulawesi Tenggara  memiliki banyak kesamaan sumber daya alam, yakni dipenuhi dengan kekayaan alam yang melimpah.

Tetapi pemerintah Australia Barat telah memanfaatkan potensi tersebut dengan 75 persen jumlah APBD-nya berasal dari hasil pertambangan, sedangkan di Sultra belum mencapai 10 persen.

Pak Gubernur Sultra mengatakan bahwa dirinya akan membangun tambang dibawah tanah kabupaten Bombana yang memikiki kandungan emas yang besar.